Postingan

Ibu

Waktu itu, ceritanya saya akan kembali merantau ke Depok. Saya memang sudah dibiasakan tinggal jauh dari orang tua semenjak SMA. Tapi, entah kenapa, setiap akan berpisah dengan ibu, saya selalu menangis. Saya tentu tidak menangis di hadapan ibu, biasanya air mata saya tumpah ketika saya sudah berada di dalam bus. Pernah, saya sampai ditawari tissue sama petugas di bus karena saya ketauan menangis. Malu sih sebenarnya, usia hampir seperempat abad, tapi tiap akan pergi jauh dari ibu, selalu menangis. Tapi... ya mau gimana lagi, anaknya emang paling ga bisa nahan nangis. Hehe. Sejak saya SMA sampai saya kuliah S2, setiap saya akan berpamitan, ibu biasanya akan selalu memeluk saya, mencium kening dan pipi saya. Ibu juga akan selalu mengingatkan saya agar rajin belajar, rajin solat dan rajin mengaji. Hari ini, entah kenapa rasanya rindu sekali dengan ibu. Rindu dimintai tolong diantar kerja. Rindu dimintai tolong ditemani belanja ke pasar. Rindu dimintai tolong untuk ditemani m...

A Letter to My Self

Dear Aisyah Apriliciciliana Aryani.... Aisyah, semangat selalu ya! Jangan pernah lelah untuk selalu memperjuangkan mimpi-mimpimu. Karena mimpimu itu, harus kamu sendiri yang bela. Kalau bukan kamu, siapa lagi. Aisyah baik, jangan mengeluh dan menyerah ya. Karena mengeluh dan menyerah itu tidak akan merubah keadaan menjadi lebih baik. Aisyah pintar, mimpi-mimpimu itu layak untuk diperjuangkan. Kamu harus tau, suatu saat nanti, yang bangga dengan mimpi-mimpimu itu bukan hanya orang tuamu. Namun juga anak-anakmu kelak.  Aisyah sayang, jangan lupa untuk selalu sertakan Allah dalam setiap langkahmu ya. Karena Allah adalah sebaik-baik penolong untuk umat-Nya.    Semangat Aisyah!

menjadi dosen

Kurang lebih dua minggu lagi saya akan mengikuti ujian seleksi pascasarjana. Namun, entah mengapa akhir-akhir ini semangat belajar saya lagi kendor sekali. Saya seperti kehilangan tujuan hidup. Saya enggak biasanya loh seperti ini. Padahal kemarin lusa, salah satu teman baik saya sempat menyemangati via BBM. Dia berkata “sayang loh syah udah dapat beasiswa tapi masa ga semangat belajarnya.” Saya membenarkan apa yang dia katakan. Tapi semangat saya belum muncul juga. Well, semangat belajar itu memang harus saya sendiri yang hadirkan. Huft. Orang-orang yang kenal dengan saya, rata-rata berpendapat bahwa saya adalah pribadi yang selalu bersemangat dalam belajar. Bahkan bukan hanya mereka yang dekat saja yang berpendapat demikian. Salah satu interviewer saya saat wawancara beasiswa, yang notabenenya baru saya kenal saat wawancara pun mengatakan hal yang serupa. Beliau berkata “Kamu ini semangat belajarnya tinggi sekali ya.” Saat itu saya hanya tersenyum dan diam-diam mengamini serta ...

se-ma-ng-at !

Keberuntungan adalah milik mereka yang bersiap Keberhasilan adalah milik mereka yang berjuang Kemenangan adalah milik mereka yang berfikir Kebenaran adalah milik mereka yang belajar Mutia Prawitasari dalam Teman Imaji Ini bukan akhir dari perjalanan. Ini adalah awal dari perjalanan. Tetap semangat berikhtiar dalam kebaikan. Karena tidak ada satupun nasib manusia yang bisa berubah kecuali dia sendiri yang mengubah. Semoga Allah senantiasa meridhoi dan merahmati setiap apa-apa yang saya usahakan dan perjuangkan. Jangan lupa kenakan selalu baju kejujuran dan kebenaran. Menangkan! Salam, April